Fenomena Alam!!!Tanah Wilayah Malang Turun 3 Meter, Ini Penyebabnya

0
531

LIPUTAN15–Fenomena alam sulit ditebak.  Wilayah Malang Raya dalam kurun waktu sekitar tiga tahun mengalami penurunan muka tanah hampir tiga meter, demikian hasil analisis yang dilakukan oleh Grup Riset Geoinformatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB) Malang.

Ketua Grup Riset Geoinformatika Filkom UB Malang Fatwa Ramdani di Malang, Sabtu, mengatakan pihaknya telah melakukan analisis terhadap pergerakan vertikal dari wilayah Malang Raya dan sekitarnya berbasis data satelit radar (Sentinel-1) milik Uni Eropa.

“Berdasarkan hasil analisa tersebut, wilayah Malang Raya, Jawa Timur, mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini,” ujar Fatwa Ramdani seperti yang dikutip dari Antara  dan dilansir CNNIndonesia pada Sabtu (13/10).

Dalam periode tiga tahun terakhir pendekatan Differensial Interferogram Synthetic Aperture Radar (DinSAR) dilakukan untuk mendapatkan informasi perubahan secara vertikal dari permukaan muka tanah.

Hasil pendekatan itu cukup mengejutkan, wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dalam kurun waktu 3 tahun, yakni hampir 3 meter.

Untuk wilayah tengah dan utara tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Namun sebaliknya, wilayah paling utara seperti Surabaya dan Pulau Madura mengalami kenaikan muka tanah sekitar 30 cm.

Sementara itu aktivitas lempeng Australia yang terus bergerak mendorong ke arah utara menuju selatan Pulau Jawa bergerak sekitar 71 mm per tahun.

Aktivitas itu memang terlihat sepele, namun dampaknya ternyata sangat besar pada penurunan muka tanah.

Data tersebut diharapkan bisa menjadi panduan bagi masyarakat di wilayah Malang Raya Selatan dan sekitarnya untuk mempertimbangkan struktur bangunan yang tahan terhadap perubahan penurunan muka tanah yang signifikan, sehingga jika terjadi bencana, kerugian materil maupun non-materil bisa diminimalisasi.

Untuk wilayah tengah dan utara Malang Raya, lanjut Fatwa, juga perlu diperhatikan, terutama aspek lingkungan.

Sebab pertumbuhan yang tidak terkontrol bisa mendatangkan bencana, seperti banjir dan longsor pada musim penghujan. Bahkan berdasarkan analisis sementara, selama 20 tahun terakhir Kota Malang dan Kota Batu mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Oleh karena itu, rentetan bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.

Tujuannya agar tidak lagi banyak korban jiwa dan kerugian material yang besar dari masyarakat.

“Edukasi terhadap literasi bencana juga perlu dilakukan secara terintegrasi. Dan, semua pihak harus memberikan kontribusi positif,” pungkas Fatwa. (end)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here