Puluhan Warga Belajar Manfaat Dekomposer Dari Tim KOTAKU Bapelitbangda Manado

0
15

MANADO –  Sebanyak 60 orang warga di Kecamatan Wenang, Kamis (10/1/2019), menerima pelatihan langsung dari KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) untuk mengolah sampah sisa makanan hingga habis di rumah masing-masing.

Inovasi teknologi ramah lingkungan dari Poltekkes Manado ini dibagikan secara cuma-cuma ini, para peserta pelatihan diharapkan turut membagikan ilmu ke warga sekitarnya untuk juga memakai dekomposer. Nantinya penggunaan dekomposer ini akan dipantau juga oleh KOTAKU.

Pelatihan ini merupakan bagian dari “Implementasi Dana Komitmen untuk Penanganan Kumuh” Program KOTAKU. Selain di Kecamatan Wenang, KOTAKU juga melakukan sosialisasi pembuatan dekomposter ke warga tingkat kelurahan di 10 kecamatan lainnya. Jumat (11/1) esoknya, dipimpin langsung oleh Kepala Bappelitbang, 40 ASN Bappelitbang Manado turut praktik belajar membuat dekomposter.

Untuk menguatkan praktik ini di tingkat kota, Dinas Lingkungan Hidup saat ini tengah menyiapkan revisi Perda Persampahan dan Perwali Jakstrada. Sementara itu, Perwali Pengurangan dan Penanganan Sampah berbasis kecamatan sedang menunggu tanda tangan Walikota.

Dinas Lingkungan Hidup sendiri sudah aktif menyiapkan 2.200 tumbler dan 200 komposter. KOTAKU sendiri telah menyiapkan 1.740 dekomposter. Sementara itu, POLTEKKES Manado turut berpartisipasi dengan mengirimkan narasumber sosialisasi, sekaligus mengerahkan mahasiswanya untuk membantu menyiapkan dekomposter.

Seluruh rangkaian aksi ini merupakan bagian dari pra acara Gerakan “Marijo BBM (Beking Bersih Manado)”, yang masih menunggu gebrakan untuk disosialisasikan ke seluruh Kota Manado.

Di tingkat masyarakat, beberapa komunitas bahkan sudah aktif memulai gerakan dekomposter secara mandiri.  Generasi Baru Indonesia (GenBI), misalnya, sudah mulai aksi pengurangan sampah dgn membagikan 190 dekomposter kepada warga sejak Desember 2018 lalu.

Di samping menyebarluaskan semangat pengelolaan sampah rumah tangga, Bappelitbang Kota Manado turut bekerjasama dengan Poltekkes dalam mengkaji pengolahan sampah stirofoam. Selama ini, pasca kegiatan yang melibatkan masyarakat luas seperti Manado Fiesta, produksi sampah stirofoam sangatlah menonjol.

Gerakan Marijo BBM sendiri sudah ada sejak tahun 2017. Akan tetapi, selama ini pelaksanaannya masih bergantung pada inisiatif masing-masing kecamatan. Mulai Desember 2018 lalu, barulah tercetus rencana untuk mengkampanyekan gerakkan ini ke skala kota. Di tingkat kelurahan, Gerakan Marijo BBM turut jadi agenda pembahasan Musrenbang kelurahan.

Rencananya, Gerakan Marijo BBM akan diluncurkan dengan kehadiran Walikota. Peluncuran ini sekaligus bertepatan dengan momentum Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2019. (Ky)

"/>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here