Karena itu kata Wagub, Presiden mengendorse dan mendorong pendidikan vokasi yaitu pendidikan kejuruan. Pendidikan vokasi adalah pendobrak antara anak-anak kita dengan lapangan pekerjaan.

“Harapan presiden pendidikan vokasi mendorong anak-anak kita berjiwa entrepreneur atau berjiwa usaha dan siap kerja. Karena kurikulumnya kebanyakan praktek bukan teori,” ujar Kandouw.

Gayung bersambung lanjut Wagub, kebutuhan tenaga siap kerja yang berlatar belakang vokasi di Jepang tinggi sekali. Permintaan kebutuhan dari Indonesia itu di Jepang 74 ribu per tahun tenaga kerja Indonesia, yang terisi baru sekitar 18 ribu.

“Masih banyak celah. Kalau boleh diisi dengan orang dari Sulut. Karena orang sulut itu adaptif,
gampang menyesuaikan, tidak eksklusif,
mudah bergaul, gampang berinteraksi,” puji Wagub.

Menurut Wagub, SMK yang magang ke Jepang bisa jadi rol model. Karena itu, Kepsek SMK jangan tidor harus dievaluasi terus. Karena itu kesempatan tidak datang dua kali, jangan sia siakan.

“Kemudian dievaluasi selama tiga tahun kerja di Jepang. Kalau memiliki etos kerja yang baik, ditambah lagi sampai lima tahun. Kalau bagus dijadikan permanen,” kata Wagub seraya berpesan kepada siswa magang agar selama bekerja memiliki etos kerja, semangat, disiplin supaya tepat waktu, kemudian hemat supaya bisa membeli rumah.