Berdasarkan data yang dihimpun terlihat jelas bahwa ada pengurangan risiko kesakitan dan kematian dari paparan virus corona, antara komunitas yang divaksin dan belum divaksin. Meski demikian ia tidak menampik bahwa tetap adanya penularan virus bagi orang yang sudah divaksin.

“Jumlah kematian atau kesakitan antara yang divaksin dan tidak itu jelas berbeda,” ujarnya.

Ahmad menambahkan, vaksinasi sudah terbukti mampu mengurangi keparahan dan menurunkan risiko kematian saat terinfeksi. Dan bila ketika ada klaim bahwa divaksin dan tidak divaksin memiliki status yang sama saja, ada baiknya untuk melihat data di berbagai negara yang sudah menggelar vaksinasi massal.

Di samping itu ia menjelaskan bahwa di Indonesia tidak hanya menggunakan satu platform vaksin saja, salah satunya menggunakan AstraZaneca. Data dari beberapa negara juga mempublikasi hasil vaksinasi menggunakan platform tersebut, seperti di Inggris dan Amerika Serikat.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa vaksinasi dengan platform AstraZeneca diklaim bisa mengendalikan beberapa mutasi virus corona, salah satunya mutasi B.1.1.7 yang ditemukan pertama kali di Inggris.