Menurut Soemadji, pembatalan ini terjadi karena Inggris telah mengerahkan pasukan berkekuatan besar di daerah tersebut. Pasukan Inggris juga mendapatkan bantuan dari negara persemakmuran, seperti Selandia Baru dan Australia.

“Ada 3 kompi, intinya adalah Kompi Benhur. Kompi Benhur ini yang akan melakukan serangan. 2 Kompi lainnya sebagai penindas dan penutup,” ujar Soemadji lagi.

“Taktiknya menyebar tim kecil sebagai intel lapangan. Saat itu perintah Pak Sarwo Edhie (Komandan RPKAD), tangkap Inggris hidup-hidup.”

Namun, serangan di Pang Amo gagal akibat medan yang berat dan informasi intelijen yang tak tepat.

Soemadji dan beberapa rekannya kemudian ditugaskan ke pos tentara Inggris di Plaman Mapu.


Pada 18 April 1965, satu peleton yang dipimpin Dan Ton Peltu Rohendi mengadakan pengintaian di Mapu. Dari pengintaian ini, tim tersebut memutuskan akan menyerang pada 26 April pukul 19.00 waktu setempat.