“Tidak sampai satu minggu dari Pang Amo, tim berangkat lagi ke Mapu. Ada kompi yang bertugas mengganggu pos-pos musuh lain agar tidak bisa membantu pos di Mapu,” kata Soemadji.

Selain itu, Soemadi juga bercerita ia harus melewati parit sedalam 2 meter, kawat gulung, dan pagar kawat.

“Seandainya kawat gulung itu dialiri setrum, mati kami. Perjuangan yang berat. Kami membawa senjata yang berat sekali bebannya, tidak boleh mengeluarkan suara, sekalipun gesekan air minum dengan veldples (tempat air minum tentara-red),” ceritanya.

Setelah pasukan Kompi B berhasil berada 7 meter dari pos musuh, barulah serangan di mulai. Kompi ini membuka serangan dengan mortir 5 pucuk.

“Elevasinya harus pas, setelah mortir dilemparkan, dung! dung! dung! dung! Tepat sekali kena bunker itu. Kemudian, dem! dem! dem! dem! Kita serang,” celoteh Soemadji lagi.

Soemadji mengaku, banyak tentara musuh yang tewas dalam serangan ini. Meski demikian, pasukan terjun payung Inggris SAS berhasil menemukan Soemadji dan tiga temannya, kemudian mereka dihujani dengan tembakan.