MANADO– Suasana Sekolah Minggu Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Eben Heazer Bumi Beringin, Minggu (8/6) pagi ini, berubah menjadi lautan keceriaan yang tak biasa.
Gelak tawa puluhan anak-anak berpadu dengan nyanyian sederhana, diwarnai kehadiran istimewa Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus.
Bukan sebagai pejabat yang disambut upacara formal, Gubernur Yulius datang sederhana sebagai pelayan. Dengan tutur ringan dan penuh keakraban, ia menyampaikan pesan iman lewat cerita-cerita sederhana, mengajak anak-anak berdialog, dan melempar pertanyaan yang dijawab dengan tawa riang.
Ruangan kecil itu pecah oleh gelak, tanpa jarak antara pemimpin daerah dan bocah-bocah yang menyapanya “Engku” dengan penuh kasih.
Dalam tradisi GMIM, sebutan “Engku Sekolah Minggu” adalah penghargaan atas dedikasi melayani anak-anak. Bagi Yulius, peran ini bukan hal baru. Jauh sebelum menjadi gubernur, ia pernah aktif mendampingi dan mengajar di kelas serupa.
“Pelayanan kepada anak-anak adalah panggilan hati, tempat benih iman ditanam sejak dini,” ungkapnya secara implisit melalui cerita kenangan yang dibagikan pagi itu.
Momen intim ini terjadi di tengah agenda pemerintahan yang padat. Beberapa jemaat terlihat terharu, sementara yang lain mengabadikan kebersamaan via ponsel.
Di ruang sederhana berisi Alkitab, buku bergambar, dan lagu-lagu rohani, Yulius menunjukkan esensi kepemimpinan: bukan hanya kebijakan besar, tapi kesediaan melayani dari hal mendasar.
Pagi itu, Gubernur Yulius Selvanus bukan sekadar pemimpin daerah. Ia kembali menjadi pengajar dan pelayan sejati, seorang Engku yang menyatu dengan anak-anaknya.(*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan