LIPUTAN15.COM MELONGUANE – Dewan Adat bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud menggelar ritual ‘Marrunassa’ atau Pentahiran yang digelar pada Jumat (6/2/2026) di Pendopo Rumah Dinas Bupati.

Kegiatan doa bersama yang dimulai pukul 05.30 Wita ini diketahui merupakan persiapan spiritual memohon pertolongan Tuhan agar puncak acara Manduru’u Tonna berjalan dengan lancar.

Acara ini mengusung tema tentang Tuhan sebagai jalan kebenaran dan sumber berkat (Rerrodairaduran Matarrinohenggona Wantambuwun Nualua Pesuipalembungi Pamanua Suallo Adantane) dengan sub tema yang menekankan pentingnya masyarakat Talaud untuk berjalan seirama dalam menjaga persatuan dan kesatuan demi kedamaian bersama (Taloda Lumempang Sangkalempang, Aembalang Sangkaririndo Maweleng Su Tata Pasasambua Mawali Su Wingkako Paaa Ukkattddeau Taloda Mangke Sumuwuu Atatino Alalangnganna Tumimbolo’a Auntungana Somaran).

Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Welly Titah yang merupakan Marambe Liado Ratun Taroda dalam sambutannya
(Wisara Maiwulawan, Tingikki Wawa’ Aranna) mengawalinya dengan salam damai dan pujian syukur kepada Tuhan.

Dalam sambutannya Bupati memberikan penghormatan kepada para tokoh adat, pemerintah serta tokoh agama yang hadir. Ia secara khusus memohon ampunan dan kelapangan hati dari Tuhan bagi seluruh penduduk Talaud dan warga Porodisa atas segala kesalahan yang mungkin telah dilakukan selama menjalani kehidupan.

Bupati Welly Titah pun menyampaikan pesan-pesan bijak kepada masyarakat dari Miangas hingga Napombalu agar senantiasa hidup dalam kesederhanaan dan rendah hati.

Bupati menekankan pentingnya menjaga kerukunan, saling mengasihi, serta menerapkan prinsip berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing dalam bertetangga. Mengutip pepatah leluhur, Bupati mengingatkan warga agar tidak perlu merasa takut atau bimbang karena perlindungan Tuhan ibarat pohon beringin yang kokoh, yang memberikan keteduhan di kala panas dan naungan di saat hujan.

“Ya’u Marambe Liado Ratun Taroda (Saya Yang mulia Pelindung Raja Talaud). Ma’tingik’sku tingi’ maiwurawan (Menyampaikan kata berharga), Mabisara wisara wawa’aran’na (Kata-kata nasehat) Su tataun Taroda, tumana’u Porodisa (Kepada masyarakat Talaud, warga Porodisa) Wuassu tinonda sara Napombaru (Dari Miangas sampai Napombalu) Mabiak’ka pa’awawo, (Hiduplah dalam kesederhanaan), Mamanua naung’ pa’asarewo (Hidup dengan rendah hati), Sidutu wasasang’garoma (Senantiasa rukun dan damai), Wa’aakanna, watatarantup’pa (Saling mengasihi, saling menyayangi), Wataturu’nga su sansinuru’nga (Tolong menolong kepada sesama), Wawenten’na alu tala otong’nge, tala pun’nene (Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing), Su i palembung su ipamannua (Dalam menjalani hidup dan kehidupan).

Ete pa’anaung-pa’anaung (Selalu ingatlah), Pakatahendung-pakatahendung (Dalam kerinduan), Pa’anaung Mawu, pakatahendung Ruata (Ingatlah Tuhan, rindukan Allah), Ere pia bisaran pande, sasanatto’u tau rorro: (Seperti pepatah orang bijak, ungkapan para leluhur), Sintang arie sintang, sindore arie sindore (Jangan takut, jangan bimbang), Arie sintang malembung, sindore mamanua (Jangan takut dan bimbang menjalani kehidupan) Ana Mawu wasingkoba ere nunu’ banau (Karena Tuhan menaungi seperti pohon beringin), Ruata warie’dong panamburing riramutan (Allah melindungi seperti pohon beringin yang beruntai), Larig’ge pamintuan badang’ (Liang pangkalnya penjaga tubuh), Rannane pararambatan’nu niawa (Dahannya pelindung nyawa), Patatiluman’na su tempon padis’sa (Peteduhan dikala panas), Pasasiru’ngan su tempong uran’na” (Naungan disaat hujan). Turung maki turung tamaa’tompol Mawu..! (Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita),” ucap Bupati Welly Titah.

Sekretaris Dewan Adat Kabupaten Kepulauan Talaud Pdt Anton Sulung, mengatakan bahwa secara umum ritual Marunassa atau Pentahiran merupakan ritual permohonan belas kasihan dan pengampunan Tuhan atas dosa dan kesalahan masyarakat Talaud secara umum, dan meminta berkat Tuhan.

“Secara khusus hari ini, Marunassa untuk memohon kepada Tuhan agar acara Manduru’u Tonna, syukur tahun baru yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan baik, dengan berkat dari Tuhan, dijauhkan dari segala bala atau hal hal yang tidak diinginkan,” ungkap Sulung.

Seluruh rangkaian ritual Marrunassa ditutup dengan ungkapan falsafah Sansiotte Sampate-Pate sebagai simbol kekuatan bersama sebelum memasuki acara utama Manduru’u Tonna.

Kegiatan sakral ini dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah, di antaranya Wakil Bupati Anisya Gretsya Bambungan, Ketua TP-PKK Ny. Henny Titah Hongwijoyo, dan Ketua Dewan Adat Arvan Bawangun beserta pengurusnya. Turut hadir pula Sekretaris Daerah Yohanis B K Kamagi, AP, M.Si serta sejumlah Pejabat Tinggi Pratama dilingkup Pemkab Talaud, para Stafsus Bupati serta para Tokoh Adat seperti Ratun Tampa, Ratumbanua dan Inangu Wanua. (tni)