Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara per Mei 2026 memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 8.952 orang, perjalanan wisatawan nusantara menembus 1,23 juta perjalanan, dan Tingkat Penghunian Kamar hotel berbintang naik menjadi 45,95 persen.
Angka-angka tersebut menegaskan bahwa aktivitas pariwisata di provinsi ini tidak hanya pulih setelah masa sulit, tetapi juga menunjukkan laju pertumbuhan yang menjanjikan.
Namun para pengamat dan akademisi mengingatkan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari volume kedatangan semata. Dr. Harley Mangindaan, Wakil Ketua ISEI Cabang Manado, menekankan perlunya pergeseran fokus menuju penciptaan nilai tambah bagi masyarakat lokal.
Dalam disertasinya tentang pengembangan pariwisata berbasis geotourism yang holistik, Dr. Harley menegaskan bahwa pariwisata idealnya menjaga karakter geografis dan budaya daerah sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Sulawesi Utara memang memiliki modal kuat untuk arah itu. Taman Nasional Bunaken, Gunung Lokon, Danau Tondano, Gunung Mahawu, Pulau Lembeh, serta kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan aset geowisata bernilai internasional. Ketika kekayaan alam ini dipadu dengan ragam budaya Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Nusa Utara serta tradisi kuliner setempat, nilai pengalaman wisata meningkat dan membuka peluang pendapatan baru bagi komunitas lokal.
Data BPS juga menunjukkan hampir separuh wisatawan mancanegara berasal dari Tiongkok. Kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus risiko ketergantungan pasar.
Menurut Dr. Harley, upaya diversifikasi pasar—menyasar Korea Selatan, Jepang, Australia, negara-negara ASEAN, hingga Eropa—harus dipercepat agar industri pariwisata lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Secara ekonomi, pariwisata diharapkan menjadi motor multiplikasi. Belanja wisatawan dapat menggerakkan perhotelan, transportasi, restoran, UMKM, industri kreatif, pertanian, perikanan, dan layanan digital. Karena itu indikator keberhasilan perlu bergeser dari sekadar jumlah kunjungan ke ukuran nilai tambah: lama tinggal, pengeluaran per wisatawan, keterlibatan dan pendapatan UMKM lokal, serta penciptaan lapangan kerja yang inklusif.
Praktik ini memerlukan kebijakan dan langkah strategis terpadu. Prioritas yang diusulkan termasuk penguatan destinasi berorientasi geotourism dan ekowisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, promosi digital yang lebih luas dan tersegmentasi, pengintegrasian UMKM ke rantai nilai pariwisata, serta pengelolaan destinasi berlandaskan prinsip keberlanjutan lingkungan. Peningkatan konektivitas antardestinasi juga penting untuk menyebarkan manfaat ekonomi ke wilayah yang lebih luas.
ISEI Cabang Manado, melalui pernyataan Ketua Dr. Joy Elly Tulung, mendukung gagasan tersebut dan menyerukan kebijakan berbasis data serta riset yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Momentum positif yang tercermin dalam data BPS seharusnya tidak berhenti sebagai pencapaian statistik. Dengan pergeseran orientasi ke penciptaan nilai tambah, Sulawesi Utara berpeluang menguatkan posisi sebagai destinasi unggulan nasional dan internasional, sekaligus memastikan manfaat ekonomi dan pelestarian budaya serta lingkungan bagi generasi mendatang.(*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan