LIPUTAN15.COM, BOLMUT – Kepala Kejaksaan Negeri Bolaang Mongondow Utara Agus Try Hartono mengigatkan pemerintah di tingkatkan desa untuk semakin peka atau responsif dalam mengahadapi Karhutla akibat kemarau panjang.
Hal demikian Agus sampaikan pada kegiatan rapat koordinasi Forum Komunikasi Pemimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bolmut, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Agus, Sangadi (Kepala Desa, red) merupakan elemen terdekat dari masyarakat, sehingga pentingnya kesedaran ini kita bangun dari tingkatkan paling bawah (desa) agar dapat meminimalisir satu kejadian.
Ia memandang, dampak dari bencana ini akan sangat berpengaruh terhadap seluruh sektor, termasuk di wilayah produksi pertanian.
“Kalau petani kita kesulitan air, pertaniannya pasti terdampak. Ini kan jadi repot. Sehingga pentingnya kesadaran ini kita bangun bersama,” ujar Agus.
Begitupun terkait dengan tata kelola pemerintahan di desa, termasuk mengenai keuangan.
Katanya, kami memahami betul keterbatasan-keterbatasan yang ada di masing-masing desa di Bolmut.
Apalagi lanjutnya, dengan adanya Program Strategis Nasional (PSN) seperti Kopdes merah putih, dan kampung nelayan.
“Untuk melaksanakan semua ini pasti banyak dinamika. Sehingga kami (Kejari) membuka diri untuk sama-sama berdiskusi agar bisa terhindar dari kesalahan,” tegasnya.
Ditempat yang sama, Plt. Bupati Bolmut Aditya Pontoh mengurai tentang banyaknya masyarakat yang terdampak akibat kemarau panjang.
Sejak bulan September 2026, Aditya menegaskan, terdapat 24 desa dari 107 Desa yang tercatat terdampak kemerau penjang.
“Begitupun Kepala Keluarga (KK), ada 2.101 KK yang terdampak karena kesulitan air bersih,” ujarnya.
Sedangkan di sektor pertanian, di wilayah Kecamatan Sangkub – Bintauna, lanjutnya, sekitat 200an Ha terdampak kemarau.
Sementata Kecamatan Bolangitang Barat – Bolangitang Timur tercatat ada 50 Ha.
Terbesar menurut Aditya, di dua kecamatan Pinogaluman dan Kaidipang, yakni 300 Ha.
“3 (tiga) komoditi seperti Padi, Jagung, dan Hortikultura paling banyak mengalami dampak dari kemarau panjang ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jika ini dibiarkan, dampaknya pasti akan melebar, seperti harga bawang, cabai akan ikut bergerak naik karena produksi berkurang.
Nvg

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan