MINAHASA UTARA – Profesional Wartawan Minahasa Utara (PROWM) terus menggencarkan dialog dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara untuk menggali gagasan yang dapat menopang pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Jumat (16/10/2026), forum diskusi digelar di Aula Lantai Tiga Rumah Sakit Maria Walanda Maramis bersama Direktur RSUD Maria Walanda Maramis, dr. Harrold Sepang, MARS., AIFO-K. Kegiatan dibuka dengan doa serta sambutan Ketua PROWM Edwin Bawole, sebelum berlanjut ke diskusi santai antara jurnalis dan pimpinan rumah sakit.
Klaim BPJS Perlu Dipahami
Dalam pemaparannya, dr. Harrold menyoroti dinamika penggunaan BPJS Kesehatan, khususnya pada pasien korban kecelakaan lalu lintas. Ia menjelaskan bahwa setiap rumah sakit bekerja sama dengan BPJS, namun klaim tetap mengikuti regulasi mengenai jenis pasien yang dapat dan tidak dapat diklaim.
“Perlu kita ketahui bersama, BPJS punya regulasi, contohnya pasien apa yang bisa diklaim dan pasien apa yang tidak bisa diklaim. Yang paling sering terlihat adalah pasien kecelakaan lalu lintas,” ujar dr. Harrold.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pihak yang berkompeten dalam klaim pembayaran pasien kecelakaan lalu lintas, yaitu BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan Jasa Raharja. Pasien tetap dilayani terlebih dahulu, tetapi diminta bersedia mengurus laporan ke pihak kepolisian karena laporan tersebut menjadi salah satu berkas klaim ke BPJS.
“Ketika ada pasien yang mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas atau pekerjaan, klaimnya harus melalui BPJS Ketenagakerjaan. Sedangkan Jasa Raharja memiliki dinamika tersendiri,” paparnya.
Paradigma Baru Rumah Sakit
dr. Harrold juga menegaskan bahwa paradigma pengelolaan rumah sakit kini telah berubah. Jika dahulu layanan kesehatan lebih menonjolkan fungsi sosial, status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menuntut rumah sakit mampu mengelola keuangan secara lebih mandiri, efisien, dan profesional.
Ia mengatakan fungsi sosial tetap harus berjalan, tetapi aspek keberlangsungan institusi tidak boleh diabaikan, terutama di tengah persaingan dengan sejumlah rumah sakit swasta di wilayah Minahasa Utara.
“BLUD adalah sistem yang memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa lebih mandiri, efisien, dan profesional, tanpa mengutamakan pencarian keuntungan,” ujarnya.
Menurutnya, pemasaran atau marketing yang dahulu dianggap tabu kini menjadi kebutuhan rumah sakit. Pasien yang datang membawa berbagai beban, mulai dari kondisi sakit, keterbatasan gerak, hingga kecemasan keluarga, sehingga pelayanan harus berorientasi pada kenyamanan, empati, dan keselamatan pasien.
“Kalau rumah sakit masih menggunakan pola pikir konvensional dan pelayanannya tidak berorientasi pada pasien, orang bisa menebak ke mana masa depan rumah sakit itu,” katanya.
Pelayanan Menentukan Kepercayaan
dr. Harrold menekankan bahwa kepercayaan masyarakat dibangun melalui pengalaman pelayanan. Pasien yang puas berpotensi memberikan rekomendasi positif kepada orang lain, sementara pelayanan yang buruk dapat merusak citra institusi.
Ia berharap seluruh sumber daya manusia, manajemen, budaya kerja, dan nilai organisasi di RSUD Maria Walanda Maramis terus diperkuat agar relevan dengan tuntutan pelayanan kesehatan masa kini.
Diskusi tersebut juga menjadi ruang bagi jurnalis PROWM untuk memahami persoalan pelayanan kesehatan secara lebih mendalam, sekaligus memperkuat peran media dalam mengawal kebijakan dan menyampaikan informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat.(jein)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan