MANADO-Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memperketat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, sejak Sabtu (5/9/2026).
Kondisi medan terjal, vegetasi kering, akses sulit, dan minimnya sumber air menjadi tantangan utama bagi upaya pemadaman di lapangan.
Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E., menegaskan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama. Ia menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah dan unsur terkait bergerak cepat, terkoordinasi, dan mengutamakan keselamatan personel serta warga terdampak.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Saya minta seluruh jajaran bergerak cepat, terkoordinasi dan jangan bekerja sendiri-sendiri. Pastikan titik api terus dipantau, cegah api meluas ke perkebunan dan permukiman masyarakat, serta siapkan seluruh dukungan yang dibutuhkan di lapangan,” ujarnya.
Gubernur meminta penguatan koordinasi antara Pemprov Sulut, Pemkab Kepulauan Sangihe, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, instansi kehutanan, pemadam kebakaran, dan potensi relawan lainnya. Pemerintah daerah juga diminta menginventarisasi kebutuhan dukungan kepada pemerintah pusat jika upaya penanganan darat dinilai belum memadai.
Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengonfirmasi koordinasi langsung dengan Gubernur dan menyampaikan harapan dukungan tambahan, termasuk kemungkinan pemadaman udara (water bombing) melalui BNPB atau sumber bantuan lain, mengingat keterbatasan akses untuk operasi darat.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi, Jemmy Ringkuangan, AP, M.Si., menegaskan pendekatan operasi harus berbasis data terpadu dan komando tunggal. “Arahan Bapak Gubernur jelas: kita harus bergerak dengan satu data, satu komando dan satu gerak. Data titik api, luas terdampak, arah rambatan, kondisi cuaca, personel serta kebutuhan peralatan harus terus diperbarui. Dari data itulah kita menentukan langkah operasional dan dukungan yang diperlukan,” kata Ringkuangan.
Langkah operasional yang ditekankan meliputi:
Pemetaan dan pembaruan data titik api serta luas terdampak secara real time.
Perkuatan sekat bakar dan upaya pencegahan agar api tidak merembet ke perkebunan dan permukiman.
Perlindungan keselamatan personel lapangan dan penyediaan peralatan serta logistik pendukung.
Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Awu demi keselamatan publik sampai pemadaman dinyatakan tuntas.
Pemkab Sangihe menyatakan jalur pendakian ditutup sementara dan menghimbau masyarakat tidak memasuki kawasan terdampak.
Pemerintah provinsi juga meminta masyarakat menahan diri dari aktivitas pembakaran lahan atau pembersihan yang menggunakan api, serta segera melaporkan bila menemukan titik api baru.
Penanganan karhutla di Gunung Awu saat ini difokuskan pada pengendalian agar api tidak meluas dan perlindungan terhadap warga serta aset pertanian. Pemerintah daerah berkomitmen terus memantau situasi dan menyiapkan langkah eskalasi bantuan, termasuk memohon dukungan pemadaman udara jika diperlukan.
“Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir, aparat bergerak, dan masyarakat harus ikut menjaga. Target kita jelas: api dikendalikan, masyarakat dilindungi, dan kawasan Gunung Awu kita selamatkan,” tutup Ringkuangan.

Tinggalkan Balasan