LIPUTAN15.COM–Venezuela menangkap 11 pejabat bank swasta, Banesco termasuk CEO-nya Oscar Doval dengan tuduhan menyebabkan depresiasi nilai mata uang bolivar.

Doval ditangkap tak lama setelah memberikan kesaksian di depan direkotrat intelijen militer pada Kamis (4/5), seperti dilansir CNN Indonesia.com.
Selain Doval, sepuluh pejabat eksekutif yakni empat wakil presiden Banesco, seorang konsultan hukum, seorang direktur, dua manajer, dan dua pejabat lain ikut ditahan aparat berwenang.

Kepala jaksa, Tarek William Saab, mengatakan para bankir tersebut diduga menutup-nutupi “serangan” terhadap nilai bolivar di luar negeri dan spekulasi dolar di pasar gelap.

“Tujuan akhir permainan mereka adalah untuk menghancurkan mata uang Venezuela. Penyelidikan menunjukkan ada bukti kelalaian dalam mencegah serta memantau pencucuian uang,” kata Saab kepada wartawan, seperti dikutip AFP.

Banesco merupakan salah satu bank swasta ternama di Venezuela. Bank tersebut juga beroperasi di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Spanyol, Panama, dan Republik Dominika.

Penangkapan para bankir, papar Saab, merupakan bagian dari razia terhadap mafia kriminal yang diduga ingin menghancurkan nilai boliviar.

Razia, ujarnya, telah berlangsung sejak pertengahan April dan telah menahan 134 orang. Aparat berwenang sejauh ini juga telah membekukan sedikitnya 1.380 rekening, 1.000 di antaranya rekening Banesco.

Otoritas juga menghentikan operasi tiga situs pertukaran mata uang dalam misi tersebut.

Selain itu, Saab mengatakan pemerintah juga akan mengambil alih operasional Banesco selama 90 hari ke depan demi menghentikan aktivitas ilegal. Caracas menujuk Wakil Menteri Keuangan Yomana Koteich sebagai dewan administratif sementara Banesco.

Meski begitu, Saab menegaskan penangkapan petinggi Banesco tersebut tidak akan mempengaruhi nasabah bank.

Venezuela tengah dirundung krisis ekonomi dan politik berkepanjangan dengan tingkat inflasi yang terus meningkat dan lemahnya nilai tukar mata uang.

Pemerintahan Presiden Nicolas Maduro menyalahkan jaringan kriminal yang menyebabkan depresiasi nilai boliviar, dengan cara memasang nilai tukar “dolar hitam” 12 kali lebih tinggi dari yang ditetapkan bank sentral