Kisah Haru Boca 12 Tahun Menyelematkan Kedua Adiknya Dari Gempa

0
1562

LIPUTAN15–Tindakan heroik dilakukan seorang bocah 12 tahun Abu Syatif Ayusman. Dia menyelamatkan dua adiknya saat gempa dan tsunami mengguncang Palu, Jumat (28/9/2018). Dilansir Kompas.com.

Kedua adiknya tersebut yakni Nadia Farah Rabbani (11) dan adik bungsu lelakinya, Asep Mustakim (5).

Yusman dan kedua adiknya bersama 86 anak korban bencana Sulteng ini telah berada di tempat pengungsiannya di kompleks SD dan TK Panrita milik yayasan Akar Panrita Makassar.

Mereka berada di Kota Makassar, setelah menumpangi pesawat Hercules milik TNI AU yang digunakan mengangkut pengungsi dari Kota Palu ke Kota Makassar sejak Senin (1/10/2018).

Di tempat penampungan, bocah yang kini duduk di kelas 6 SD ini menceritakan kisahnya, Rabu (3/10/2018).

Kesedihan terlihat di wajahnya. Ia tampak menahan air mata saat menceritakan tentang apa yang dialaminya saat gempa magnitudo 7,4 mengguncang daerahnya.

Saat itu, dia dan kedua adiknya tengah bermain di luar rumah. Sedangkan ibunya tengah berada di dalam rumahnya di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sementara sang ayah, masih berada di luar rumah bekerja sebagai pengusaha.
Saat gempa bumi mengguncang, Yusman dan dua adiknya tersebut hendak pulang ke rumah. Namun orang-orang yang berpapasan di jalan, memintanya ikut menyelamatkan diri ke tempat tinggi.

Dia dan kedua adiknya kemudian sempat ikut menumpangi mobil bak terbuka ke perbukitan yang dikenal dengan nama Vatutela.
“Saya rasa goyang keras sekali, rumah-rumah retak dan ada yang hancur. Orang-orang lari semua, mereka bilang air naik. Jadi saya ikut numpang di mobil bak terbuka ke bukit,” ujarnya dengan nada suara yang kecil.

“Kami di sana sama banyak orang. Satu hari tidak makan, cuma dapat minum dikasi orang,” kata Yusman yang berbaur dengan anak-anak lain yang senasib dengannya.

Sehari setelah gempa, Yusman sempat kembali ke rumahnya yang rusak. Tapi di sana, dia tidak menemukan orangtuanya.

Yusman juga tidak mengetahui siapa nama mereka karena sejak kecil terbiasa memanggil dengan sebutan Ayah dan Ibu Bat.

Tidak berhasil menemukan orangtuanya, Yusman kembali ke tempat pengungsian sementara di perbukitan Vatutela.

Yusman dan kedua adiknya ikut pengungsi lainya ke Bandara Mutiara Al Jufri dengan menumpangi mobil.

Setibanya di bandara Kota Palu, Yusman dan kedua adiknya bersama pengungsi lainnya menunggu dua hari hingga akhirnya berhasil diangkut menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU.

“Setelah tiba di Makassar, kami di sini diberi makanan, minuman, dan pakaian. Kami sehat di sini. Saya harap kedua orangtua kami selamat dan bisa kembali bertemu,” tutur Yusman. (end)

"/>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here