LIPUTAN15-Rupiah tembus level terendah sepanjang masa Rp17.312 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026) pukul 9.36 WIB, merosot 0,77% setelah melemah 0,22% sehari sebelumnya.

Rupiah jadi mata uang terlemah di enam emerging market Asia, kalah jauh dari yuan China (-0,06%), won Korea (-0,22%), dan ringgit Malaysia (-0,30%).

Indeks DXY naik 0,11% ke 98,70, reli safe-haven dolar AS sejak awal bulan capai 2,4% akibat pertumbuhan global lesu, kata ahli CIBC Noah Buffam.

Respons Agresif BI

Gubernur BI Perry Warjiyo tahan BI Rate 4,75%, fokus stabilisasi via suku bunga dan operasi moneter. “Siap penguatan kebijakan lebih lanjut jaga rupiah dan inflasi 2026-2027,” tegasnya pasca-RDG.

Cadangan devisa US$148,2 miliar cukup stabilkan pasar. BI intervensi spot, NDF offshore, DNDF domestik, plus naikkan bunga SRBI-SBN tarik inflow asing Rp50+ triliun sejak Februari.

Prospek Volatil

Wall Street (JP Morgan, Goldman Sachs) revisi pandangan tapi tahan proyeksi. Rupiah rentan sentimen global, BI optimis ketahanan eksternal kuat.(*)