MINUT — Upaya menjadikan masyarakat lokal sebagai pemilik dan pengelola pariwisata mendapat dorongan nyata lewat kemitraan strategis antara STIPAR Manado, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, ASDEWI, dan LSP Pariwisata Bunaken Indonesia.
Kesepakatan yang dibahas dalam audiensi, Selasa (23/6), menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci agar manfaat ekonomi pariwisata tersalur langsung ke desa-desa penyangga Likupang.
Alih-alih hanya fokus pada infrastruktur dan promosi, kerja sama ini mengambil angle pemberdayaan: pendidikan terarah, pelatihan praktik berbasis kompetensi, sertifikasi yang diakui nasional, dan pendampingan UMKM menjadi pilar utama. Model ini menunjukkan pergeseran strategi dari “menerima wisatawan” menjadi “mengelola pengalaman” — memberi warga desa kapasitas teknis dan peluang usaha nyata.
Beasiswa dan sertifikasi sebagai katalis
Program unggulan Beasiswa Mitra Mandiri akan menargetkan putra-putri dari 10 kecamatan di Minahasa Utara untuk studi pariwisata di STIPAR Manado. Selain membuka akses pendidikan tinggi, beasiswa ini diposisikan sebagai jalur pembentukan tenaga ahli lokal yang kelak kembali mengelola homestay, destinasi, dan layanan pariwisata lain di kampung halaman.
Di sisi lapangan, LSP Pariwisata Bunaken Indonesia akan menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi — dari pemandu wisata dan pengelolaan homestay hingga pengembangan kuliner Tonsea dan pemasaran digital. Sertifikasi BNSP memberikan nilai tambah kompetitif bagi pelaku lokal saat bersaing di pasar pariwisata nasional dan internasional.
Kolaborasi ini mempertemukan akademia, pemerintah daerah, asosiasi desa wisata, dan lembaga sertifikasi, sehingga rantai nilai pengembangan wisata—dari pendidikan, kurasi produk, hingga pemasaran—terintegrasi. Peran mahasiswa untuk ikut kurasi produk dan membuat konten promosi serta peran ASDEWI dalam membuka akses pameran nasional memperkuat ekosistem pemasaran bagi UMKM desa.
Para pemangku kepentingan menilai bahwa kesiapan SDM lokal akan meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, memperpanjang durasi kunjungan, dan memperbesar nilai tambah ekonomi bagi komunitas setempat. Selain itu, peningkatan kapasitas lokal diharapkan menurunkan kebocoran manfaat ekonomi ke aktor eksternal dan memperkuat kemandirian desa wisata.
Keberhasilan inisiatif ini bergantung pada beberapa faktor teknis: kepastian pendanaan berkelanjutan untuk beasiswa dan program pelatihan; sinkronisasi kurikulum STIPAR dengan kebutuhan lapangan; mekanisme monitoring sertifikasi; serta keterlibatan aktif stakeholder lokal dalam perumusan materi pelatihan sehingga sesuai kultur dan potensi lokal.
Para pihak sepakat menandatangani nota kesepahaman (MoU) bulan depan, sementara Beasiswa Mitra Mandiri angkatan pertama direncanakan dibuka pada tahun ajaran mendatang. Jika terlaksana sesuai rencana, Minahasa Utara dapat menjadi model replikasi pengembangan desa wisata yang menempatkan masyarakat sebagai motor utama pembangunan pariwisata.(**)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan