LIPUTAN15, Sangihe — Kabupaten Kepulauan Sangihe bersiap menjadi tuan rumah Sangihe Taekwondo Open Championship Bupati Cup 2026. Sejumlah dojang di daerah kepulauan itu dipastikan akan ambil bagian dalam ajang yang menjadi kesempatan bagi atlet lokal untuk menunjukkan kemampuan di hadapan publik sendiri.

Ketua Pengurus Kabupaten (Pengkab) Taekwondo Indonesia (TI) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Yunita Harimisa, SE., MH, mengatakan persiapan kepengurusan maupun atlet untuk mengikuti kejuaraan tersebut terus dilakukan.

“Kalau kepengurusan sudah ada. Untuk atlet juga sudah ada. Ada beberapa dojang yang baru kita buka, yaitu Dojang Enemawira dan Dojang Utu Urano,” ujar Yunita saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, seluruh dojang yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe akan dilibatkan dalam pelaksanaan open tournament tersebut.

“Semua dojang yang ada di Sangihe akan ikut dalam open tournament,” katanya.

Yunita optimistis keikutsertaan atlet Sangihe tidak sekadar menjadi bagian dari penyelenggaraan, tetapi juga mampu menghasilkan prestasi.

Keyakinan itu, kata dia, berkaca dari pengalaman atlet Sangihe yang telah mengikuti sejumlah turnamen di luar daerah dan berhasil membawa pulang medali.

“Pastinya akan meraih prestasi. Dari pengalaman, kita sudah beberapa kali ikut turnamen di Tomohon maupun Manado dan atlet Sangihe ada yang membawa medali, ada prestasi. Jadi pasti, apalagi bertanding di tempat sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Yunita turut menanggapi persoalan dualisme organisasi Taekwondo yang selama ini melibatkan UTI Pro dan PBTI.

Ia mengatakan, persoalan tersebut berada pada ranah organisasi di tingkat pusat. Pengurus di daerah, menurutnya, menjalankan arahan dan ketentuan dari Pengurus Provinsi.

“Kalau masalah itu mungkin ke pusat. Mereka di sana yang lebih tahu. Kita kan hanya mengikuti arahan dari provinsi. Ketika ada surat dari provinsi, kita mengikuti,” jelasnya.

Terkait keberadaan atlet Taekwondo dari UTI Pro di Sangihe yang selama ini juga mengukir prestasi hingga tingkat nasional maupun internasional, Yunita mengatakan pihaknya tetap mengacu pada ketentuan organisasi yang berlaku.

Ia mengibaratkan persoalan tersebut seperti yang terjadi pada cabang olahraga lain yang memiliki lebih dari satu wadah organisasi.

“Ini juga di pusat. Sama dengan tinju, ada Pertina, ada Perbati,” katanya.

Yunita menjelaskan, Pengkab TI Sangihe sebelumnya telah menerima surat dari Pengurus Provinsi terkait ketentuan perpindahan atlet maupun pelatih antarorganisasi.

Menurutnya, terdapat ketentuan mengenai masa jeda tertentu bagi atlet atau pelatih yang berpindah dari satu organisasi ke organisasi lainnya sebelum dapat bergabung dan mengikuti kegiatan di organisasi baru.

“Kita kemarin juga ada dapat surat dari provinsi karena ada kasus atau case pelatih yang suka bikin dojang di Kodim. Kita dapat surat dari provinsi berdasarkan aturan seperti ini, ada minimal berapa tahun. Jadi supaya jangan ada seperti sebelumnya, dari UTI Pro ada permasalahan kemudian masuk ke PBTI, ada jeda dan tidak langsung masuk,” pungkasnya. (D’ka)