TOMOHON– Langkah konsolidasi dan perombakan struktur internal yang tengah berjalan di tubuh DPD II Partai Golkar Kota Tomohon pasca-Pilkada memantik perhatian serius dari akademisi dan pengamat politik Sulawesi Utara. Penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua untuk menggantikan posisi Miky Wenur dinilai sebagai babak baru sekaligus sinyal evaluasi total atas performa keorganisasian partai berlambang pohon beringin tersebut.

Menanggapi fenomena ini, Pengamat Politik dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Josef Kairupan, menyatakan bahwa reposisi kepemimpinan pasca-kekalahan politik merupakan sebuah mekanisme pertanggungjawaban institusional yang lazim terjadi dalam dinamika partai modern. Langkah ini krusial untuk memutus asosiasi negatif publik terhadap kegagalan di masa lalu.

“Golkar Tomohon saat ini dihadapkan pada tantangan besar untuk bertransformasi. Partai harus mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada model patronase figur tertentu tradisional (patron-client) dan beralih menuju pelembagaan partai modern yang partisipatif serta berorientasi pada isu publik,” ujar Kairupan saat dihubungi.

Melihat bursa figur potensial yang mencuat menjelang Musyawarah Daerah (Musda)—seperti politisi senior Djemmy Sundah, figur keterwakilan gender Jilly Eman, dan representasi pemuda Gerald Lapian—Kairupan menilai Golkar Tomohon memiliki komposisi kader yang lengkap. Kuncinya terletak pada bagaimana meramu potensi tersebut agar tidak berujung pada perpecahan internal.
Menurutnya, formula kepemimpinan kolektif-kolegial menjadi opsi terbaik agar Musda tidak melahirkan faksionalisme. Pembagian peran harus dilakukan secara objektif berdasarkan keunggulan kompetitif masing-masing figur.
“Figur senior seperti Djemmy Sundah sangat dibutuhkan sebagai jangkar stabilitas organisasi dan penengah friksi politik internal. Di sisi lain, kekuatan trah basis massa yang dimiliki Jilly Eman efektif untuk mengonsolidasikan struktur akar rumput hingga tingkat kelurahan dan kecamatan,” jelasnya.

Namun, Kairupan memberikan catatan khusus terkait profil pemilih saat ini yang didominasi oleh generasi muda dan pemilih pemula. Munculnya wajah baru seperti Gerald Lapian dipandang sebagai instrumen strategis untuk membarui pendekatan politik luar partai.

“Zaman sudah berubah dan pemilih milenial serta Gen Z memiliki karakteristik tersendiri. Hadirnya figur muda seperti Gerald Lapian sangat diperlukan untuk mengendalikan narasi politik luar, melakukan modernisasi infrastruktur digital partai, serta menyusun program kerja inklusif yang menyentuh sektor riil seperti ekonomi lokal, pertanian, dan pariwisata yang relevan dengan kebutuhan warga Tomohon saat ini,” pungkas Dosen Fisip Unsrat tersebut.

Kairupan menegaskan, jika Plt Ketua mampu mengawal Musda secara transparan, mendorong pakta integritas antar-kandidat, dan melakukan rekonsiliasi total pasca-pemilihan, maka momentum ini akan menjadi titik balik kembalinya kejayaan Golkar di Kota Bunga. (Aldo)