LIPUTAN15.COM, BOLMUT – Sebagai seorang yang berprofesi jurnalis di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, acara yang tidak pernah dimulai tepat waktu dalam berbagai kegiatan resmi pemerintahan tentu sudah menjadi hal biasa.
Pola ini nyaris terus terulang__dan modelnya begitu-begitu lagi: menunggu undangan hadir atau pejabat datang.
Seperti apa yang saya alami pagi tadi di acara Focus Group Discusion (FGD) diskusi kelompok terarah dalam rangka penyusunan RKT binadow sejalan kabupaten Bolmong Utara.
Kegiatan yang digagas Disnakertrans Bolmong Utara itu turut mengandeng tim Kementrans dan juga tim Universitas Gajah Mada (UGM).
Ruang rapat Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dipilih menjadi pusat pelaksanaan acara FGD tersebut.
Kronologi singkat itu terjadi ketika acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WITA harus molor berjam-jam hanya karena alasan-alasan itu lagi.
Bayangkan, saat tiba dilokasi, tepat pukul 08.30 WITA, saya bertemu dengan panitia kegiatan yang sudah siaga di depan pintu masuk.
Saya juga melihat peserta lain yang datang tepat waktu: ada yang menunggu sambil berdiri, ada juga yang disibukan mengatur kursi-dll.
Hingga tepat pukul 10.30, panitia memilih untuk tidak lagi mengulur waktu yang telah bergesar panjang.
Waktu yang bergesar itu juga sempat membuat Sekretaris Daerah, Jusnan Mokoginta harus bolak-balik untuk membuka kegiatan di jam yang sama dilain tempat.
Acaranya pun datang, dimulai! Namun dengan peserta jauh dari separuh kursi yang teratur rapih.
Sekda yang tidak ingin gagal melihat acara itu kemudian memilih keluar masuk ruangan BPKAD untuk mengajak ASN agar dapat mengisi kursi kosong.
Jusnan memandang, kejadian ini tentu menjadi pembalajaran bagi kami di Bolaang Mongondow Utara khusus di lingkungan ASN.
“Saya minta maaf bu (tim UGM dan Kementrans), nanti sebentar jangan lupa bu dosen, titip pesan bagaimana pembinaannya agar ASN kita ini bisa disiplin waktu,” pintanya, melanjutkan acara tersebut.
Ditempat yang sama, diakhir acara, Kepala Pusat Kajian Puspertrantas UGM,
Dr. Sri Rahayu Budiani menceritakan perannya menjadi dosen di UGM.
“Di UGM, atau di kelasku, kalau pintunya sudah dikunci mahasiwa saya tidak bisa lagi diporbolehkan masuk, karena pasti akang menganggu konsentrasi yang telah ada sebelum jam mata kuliah mulai,” ungkapnya.
Pesan ini menurut Rahayu bukan untuk mengurui pejabat-pejabat yang hadir hari ini, melainkan untuk menyapa pesan yang dititipkan Sekda sebelumnya.
Pesan singkat itu tampak adem, namun menjadi berbeda karena harus disampaikan dosen di salah satu kampus ternama di Indonesia.
Sekaligus menjadi tamparan keras buat saya sendiri tentang belajar menghargai waktu.
Disinilah, molor itu saya letakan berbeda, pokoknya berbeda.
Terimakasih!!
(Nvg)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan