TOMOHON-Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk, S.H., bersama Ketua TP-PKK Daerah Kota Tomohon drg. Jeand’arc Senduk-Karundeng hadir dalam syukuran pernikahan adat Batak pasangan Waraney Roeroe, S.T., M.Eng. dan Monika Manurung.
Acara yang berlangsung di Auditorium Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado pada Sabtu (19/9/2026) tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat daerah dan keluarga besar kedua mempelai.
Dalam sambutannya, Wali Kota Senduk menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan moral bagi pasangan pengantin. Ia menyebut pernikahan yang sebelumnya dilangsungkan di Tokyo pada Desember 2025 itu menjadi momentum istimewa karena menyatukan dua latar budaya, Batak dan Manado.
“Puji dan syukur kita panjatkan karena hari ini kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hadir dalam syukuran pernikahan Waraney dan Monika,” kata Senduk.
Wali Kota menekankan bahwa perbedaan budaya dalam rumah tangga menuntut kemampuan beradaptasi dan saling menghormati.
Ia mengingatkan kedua mempelai bahwa tantangan rumah tangga pasti ada, sehingga sebagai orang yang beriman mereka harus senantiasa mengandalkan Tuhan dalam menghadapi persoalan. “Nasihat manusia terkadang bisa keliru, tetapi mengandalkan Tuhan tidak akan pernah salah,” ujarnya.
Selain pesan spiritual, Senduk juga menegaskan pentingnya penghormatan kepada orang tua, meskipun pasangan nantinya merantau dan tinggal di kota besar seperti Tokyo.
Atas nama keluarga Senduk-Karundeng dan Pemerintah Kota Tomohon, ia menyampaikan selamat kepada Waraney dan Monika serta kedua keluarga besar, memberi penghargaan kepada orang tua yang telah mendidik dan mengantarkan anak-anak mereka ke jenjang pernikahan.
Acara syukuran adat Batak itu turut dihadiri Bupati Yahukimo Didimus Yahuli, S.H., M.H., Walikota Manado Andrei Angouw bersama Ketua TP-PKK Kota Manado Irene Golda Pinontoan, Ketua DPRD Kota Tomohon Drs. Jhonny Runtuwene, D.E.A., serta tamu undangan lain.
Mempelai pria berasal dari keluarga Roeroe-Wariki, sedangkan mempelai perempuan berasal dari keluarga Manurung-Tangapo Boru Simiamora dan keluarga Sianturi-Manurung.
Syukuran yang berlangsung hangat itu tidak hanya menjadi perayaan keluarga, tetapi juga menggambarkan nilai persatuan antarbudaya yang didukung oleh tokoh-tokoh daerah, sekaligus memperlihatkan tradisi dan adat Batak yang dipertahankan dalam konteks modern kehidupan perantauan.

Tinggalkan Balasan