LIPUTAN15.COM — Gelombang panas menerjang Kanada sejak akhir Juni. Lebih dari 34 orang tewas. Gelombang panas tersebut adalah yang terburuk melanda Provinsi Quebec, Kanada selama beberapa dekade terakhir.

Otoritas kesehatan Provinsi Quebec, Kanada menyatakan sedikitnya 33 orang tewas akibat komplikasi terkait gelombang panas dalam beberapa hari terakhir.

Sebanyak 18 korban berasal dari Montreal dimana kelembaban suhu udara mencapai 43 derajat Celcius.

Sebagian besar korban adalah pria berusia lebih dari 50 tahun, yang tinggal sendirian di apartemen-apartemen pribadi atau panti jompo.

Para korban tidak memiliki pendingin ruangan dan sebagian besar meninggal di dalam rumah-rumah mereka. “Ini tidak mengejutkan. Orang tua, penderita penyakit kronis dan penyandang kesehatan mental lebih berisiko,” kata David Kaiser dari Departemen Kesehatan Montreal, Jumat (6/7). Seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Menurut Kaiser, aspek sosial yakni hidup sendirian dan tidak punya tempat lain untuk mendinginkan tubuh, menjadi salah satu penyebab kematian terkait gelombang panas. “Montreal adalah pulau panas raksasa,” kata Kaiser menyebut fenomena gelombang panas akibat kurangnya vegetasi di tengah hutan beton.

Biro lingkungan Kanada menyatakan daerah yang paling terpengaruh gelombang panas antara lain Pulau Montreal, Chateauguay/La Prairie, Laval, Longueuil dan Varennes.

Peringatan kabut asap juga berlaku untuk daerah-daerah tersebut. Konsentrasi tinggi ozon juga terdapat di wilayah itu, akibatnya kualitas udara memburuk.

“Konsentrasi polutan yang tinggi diperkirakan akan bertahan hingga malam ini,” kata Badan Lingkungan Kanada.

Kabut asap akan sangat mempengaruhi anak-anak penderita asma dan mereka yang menderita penyakit pernafasan atau jantung.

Dilansir cbc.ca, gelombang panas di Kanada dimulai sejak 29 Juni. Kabar dari biro cuaca menyatakan temperatur akan menurun pada Jumat (6/7) menjadi 23 derajat celcius.