LIPUTAN15–Gempa bumi yang melanda Sulawesi Tengah membuat lumpur dari dalam keluar.
Lumpur yang keluar dari perut bumi telah menguburkan sebagian wilayah Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Seperti dilansir Kompas.com.

Anak dan neneknya belum ditemukan. Amir (35) hanya bisa memandang bukit lumpur yang tiba-tiba muncul ini.

“Sore itu saya lihat jalan aspal tiba-tiba menekuk-nekuk ke atas seperti gelombang laut disertai gempa yang mengguruh,” ungkap Amir, Senin (1/10/2018).

Lanjut dia jalan aspal,  mulai terlihat berlipat dari arah pesantren, perlahan-lahan mendekat ke arah rumahnya. Gemuruh dan guncangannya seperti dunia ini mau kiamat.

Amir yang baru pulang kerja dan hanya menggunakan lilitan handuk lalu menerjang rekahan tanah untuk mencari anak pertamanya. Mertua dan anaknya ini sedang membeli laut untuk makan malam.

“Saya meloncat-loncat dari gundukan aspal yang terangkat untuk mencari mereka,” tutur Amir.

Tidak lama kemudian, dari rekahan aspal ini muncul lumpur dari dalam perut bumi.
Perlahan-lahan rumah-rumah di Petobo ambruk dan tenggelam oleh lumpur dari perut bumi.

“Saya lihat seorang ibu menggendong anaknya tenggelam di dalam rekahan. Kami berusaha menolongnya dengan menggali lumpur,” ujar Amir matanya berkaca-kaca.

Wanita ini hanya menyisakan kepala, sementara tubuhnya sudah ditelan bumi.
Amir menarik kepalanya dan berhasil. Sayangnya anak yang digendongnya tenggelam dalam lumpur.

Hanya itu yang dia ingat. Setelah itu, dia berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Lumpur yang keluar dari perut bumi ini seakan mendapat tekanan yang lebih kuat dari dalam.

Muntahannya membentuk bukit dan menggelamkan sebagian wilayah Petobo. Tidak ada data yang jelas berapa banyak korban yang tenggelam oleh kemunculan lumpur ini.

“Mungkin ada ratusan rumah, Petobo adalah kawasan yang padat penduduk,” kata Amir.

Terik matahari tak dihiraukan, dia terus mencari-cari anak dan mertuanya hingga di puncak bukit lumpur ini. Amir tidak sendirian menjadi korban gempa bumi dahsyat ini. Ia bersyukur masih bisa menyelamatkan istri dan anak keduanya. Saat ini, keduanya ditempatkan di pengungsian bersama warga yang selamat lainnya.

Dahsyatnya gempa yang memunculkan lumpur ini diceritakan oleh Mahmud. Dia menunjuk sebuah rumah yang tinggal kerangka bajanya.

Rumah itu awalnya di dekat sekolah, namun kekuatan lumpur ini telah menyeretnya hingga ratusan meter. Semua yang dilalui lumpur ini ambruk dan terkubur.

“Saya tidak tahu ada berapa orang yang terkubur lumpur ini. Rumah saja bisa mencapai ratusan,” kata Amir.

Munculnya bukit lumpur ini menjadi tanda besar bagi warga yang Palu. Bagaimana mungkin perkampungan warga yang harmonis tiba-tiba terkubur lumpur yang keluar dari perut bumi.

Sementara Syamsuddin (51) yang juga warga Petobo kaget setengah mati saat dia pulang kerja di Perumahan Dosen Tadulako menjumpai kampungnya tidak lagu memiliki jalan. “Saya bingung mau pulang karena jalan yang ada sudah menjadi gunung,” ungkap Syamsuddin.

Dia tidak tahu kabar keluarganya. Dia pasrah. Syamsuddin menunjukkan papan kayu yang berantakan diobrak-abrik lumpur sebagai patokan rumahnya yang terkubur lumpur.

“Saya sedih, saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan semuanya,” ujar Syamsuddin. (end)