Sangihe, Liputan15.com – Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang dilaksanakan untuk untuk meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat, meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses air minum dan sani-tasi yang berkelanjutan,dalam penyelenggaraan layanan air minum, sayangnya praktek dilapangan dinilai tumpang tindih dan akan membuat program Presiden Joko Widodo 100-0-100 tidak akan tercapai.

Hal ini diungkapkan Dirut PDAM Sangihe Novilius Tampi kepada Liputan15.com dijelaskannya 100-0-100 ini merupakan sebuah program menuju pemenuhan target tiga sektor antara lain pemenuhan 100% akses layak air minum, pengurangan kawasan kumuh menjadi 0%, dan pemenuhan 100% akses sanitasi layak.

“Namun di Kabupaten Kepuluan Sangihe ada pelanggan PDAM tetapi mendapat program pamsimas. Dan ketika pamsimas masuk otomatis layanan PDAM akan ditutup karena biaya pamsimas lebih murah. Kalau begini kapan program 100-0-100 akan tercapai,” jelasnya.

Dia pun meminta, agar program pamsimas menyasar wilayah yang tidak ada layanan PDAM, supaya capaian 100-0-100 itu bisa tecapai.

“Kalau hanya memikirkan kepentingan masyarakat mencari air murah, itu bukan tujuan program 100-0-100. Padahal sudah berapa kali saya ingatkan seperti itu,” kata Tampi.

Menurutnya, air itu tidak hanya sekedar mengalir di pipa tapi bagaimana kualitas air ini sehingga layak untuk dikonsumsi masyarakat. Dan air PDAM meski belum dikatakan layak dikonsumsi karena harus dimasak terlebih dahulu, namun punya proses penyaringan dan setiap kali ada bangunan instalasi pengolahan air (IPA) pasti disitu ada Laboratorium yang didalamnya ada alum, kaporit dan lainnya.

“Apalagi kalau musim kemarau begini, memang harus ada alum sulfat, supaya air ini layak untuk dikonsumsi masyarakat, bukan hanya sekedar air yang mengalir di pipa. Dan juga air PDAM itu sudah diukur dari sumbernya berapa debit air agar ketika kemarau tidak akan kering. Jadi tidak sembarangan,” pungkas Tampi.