New York – Pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Tuberkulosis (HLM TB) Majelis Umum PBB (UN GA) ke-78, dalam rangka United Nation Assembly Sidang Umum PBB bidang kesehatan yang membicarakan 3 topik yakni Prnyakit TBC, Universal health Coreragr dan Pandemic Prevention Preparedness and Respon Kamis, 21 September, di New York Amerika Serikat.

Pada kegiatan ini Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Polandia bekerja sama dengan Stop TB Partnership dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menyelenggarakan acara sampingan “Berinvestasi dengan Benar, Berinvestasi Sekarang untuk Mengakhiri TB”.

Acara sampingan ini diadakan satu hari sebelum pertemuan HLM TB PBB dan membangun antusiasme mengenai bagaimana pemangku kepentingan global dan nasional dapat berkolaborasi dan menjalankan pembicaraan untuk mewujudkan tujuan untuk mengakhiri TB pada tahun 2030.

Acara ini dibuka Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, sementara closing remarks oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Budi G. Sadikin.

Sedangkan diskusi panel dimoderatori Nurul Luntungan, Ketua Yayasan STPI, bersama Norbert Ndjeka (Kepala Direktur Pengendalian dan Penanggulangan TBC Kementerian Kesehatan Afrika Selatan), Dr Maxi Rein Rondonuwu (Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan Indonesia), Katarzyna Drążek-Laskowska (Direktur Biro Kerjasama Internasional dari Kementerian Kesehatan Polandia), Timur Abdullaev (Anggota Dewan Orang TBC), dan Tereza Kasaeva (Direktur Program TBC Global Organisasi Kesehatan Dunia) .

Pada diskusi ini, Maxi Rein Rondonuwu selaku Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan Indonesia, menyatakan, investasi pada penelitian dan pengembangan alat-alat baru dalam memajukan diagnosis, pengobatan, dan vaksinasi TBC akan mempercepat upaya pemberantasan TBC.

“Investasi untuk Pelayanan Kesehatan Primer dan Penguatan Sistem Kesehatan, dengan Program TBC yang terintegrasi, harus menjamin keberlanjutan dan ketahanan dalam menyediakan layanan TBC yang berpusat pada pasien berkualitas tinggi,” tegasnya.

Diskusi panel menekankan bahwa mengakhiri TBC memerlukan investasi komprehensif dan keterlibatan masyarakat yang bermakna mulai dari penelitian dan pengembangan untuk inovasi, pengujian, pengobatan, dan pencegahan TBC yang efektif dalam skala besar.

Pada hari yang sama, sebuah side event dilaksanakan oleh Stop TB Partnership berkolaborasi dengan CDC U.S. dan CDC Foundation, side event ini menyoroti kebutuhan penting akan inovasi dan peningkatan kegiatan pencegahan berbasis bukti yang ada termasuk TPT untuk mencapai tujuan AKHIR TB dan pembicara akan bergabung dari Negara-negara Anggota PBB dari negara-negara dengan insiden TBC tinggi dan rendah, Pemerintah AS, Masyarakat Sipil, dan Organisasi Multilateral.

Diskusi panel akan mengeksplorasi peluang, hambatan, atau tantangan yang belum dimanfaatkan dalam peningkatan TPT global, dan kesenjangan yang dapat menghambat upaya tersebut.

Ditambahkan Maxi Rein Rondonuwu, di Indonesia, lebih dari 22.000 orang menggunakan TPT pada tahun 2022, atau hanya 1% dari 1,3 juta populasi sasaran. Saat ini, Indonesia memprioritaskan TPT untuk ODHA, semua usia yang pernah kontak dengan penderita TBC di rumah, dan kelompok risiko lainnya, terutama jika mereka memiliki kondisi imunokompromais dan penyakit penyerta.

Sementara itu, Jumat, 22 September Media Breakfast meeting dihadiri Dr. Maxi Bersama dengan Menkes, Wakil Menkes, dan anggota parlemen dari negara lainnya. Pada media meeting ini ditanyakan terkait progress dan bagaimana strategi Indonesia dalam melaksanakan penanggulangan TBC. Pada kesempata tersebut, Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan bahwa Indonesia telah melakukan dan memberikan komitmen tertinggi nya untuk pengendalian TBC yang berupa telah tersedianya peraturan presiden no 67/ 2021 tentang penanggulangan TBC.

Perprese tersebut menekankan pentingnya kolaborasi multisectoral dan lintas sector. Pada tahun 2022 Indonesia berhasil mencapai 75% kasus dari target yang harus ditemukan

Selain itu ditambahkan pula bahwa negara telah menjadi yang terdepan dalam inovasi pembiayaan layanan kesehatan, partisipasi dalam uji klinis, dan peluncuran rejimen BpaL yang inovatif. Pencapaian ini tidak hanya meningkatkan kemampuan kita dalam memerangi TBC namun juga menjadi bukti kekuatan kolaborasi dan inovasi.