LIPUTAN15.COM, BOLMUT – Dunia pendidikan kita kembali dihantam satu peristiwa berulang. Setelah sebelumnya siswa berkelahi dengan guru, kali ini guru dikabarkan memukul murid.
Dua sisi yang terus mengerogoti dunia pendidikan kita. Kalau bukan murid yang menjadi korban __ yah guru.
Dunia pendidikan kita benar-benar harus menyalakan alaram peringatan terhadap kasus kekerasan di sekolah.
Fenomena ini bukan lagi sebuah insiden mengejutkan, tapi sudah menjadi seperti lagu lama yang diputar terus menerus.
Seolah kita disuruh menunggu kasus berikutnya kapan kembali terjadi.
Padahal, sudah jelas tak ada yang menang dalam kekerasan itu, yang ada hanyalah luka nan penyesalan.
Alasan saya menulis ini karena saya sudah lelah melihat luka dan penyesalan yang sama terus berulang.
Saya tidak ingin menulis banyak. Saya hanya berharap ruang pendidikan kita kembali menjadi ruang aman.
Jangan biarkan kekerasan terus tembuh dalam sekolah.
Memang tidak mudah, tapi harus kita lawan.
Sebab kasus kekerasan dalam sekolah tidak selalu datang mengejutkan.
Jika kita melihat lebih dalam, sering ada pola: emosi yang tidak bisa dikendalikan.
Kita harus jujur, bahwa sekolah bukan tempat steril. Ia adalah tempat berbagai emosi bertemu dan berinteraksi.
Kekerasan jarang muncul tiba-tiba. Ia biasanya hasil akumulasi. Ruang pendidikan tidak kebal dari dunia luar.
Sekolah bukan dunia terpisah. Ia bagian dari ekosistem sosial yang sama.
Kekerasan masuk ke ruang pendidikan bukan karena pendidikan gagal sepenuhnya. Tapi karena pendidikan belum lengkap.
Mengapa? Karena manusia membawanya masuk— bersama luka, ego, dan emosi yang tak selesai.
Dan jika kita ingin menghentikannya, kita tidak cukup hanya memperkuat pagar sekolah.
Kita harus memperkuat karakter di dalamnya.
Karena pendidikan sejati bukan hanya tentang menjadi pintar.
Tapi tentang menjadi dewasa.
Terimakasih.
(Nvg)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan