MINAHASA UTARA — Desa Paniki Atas, Kecamatan Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, Senin (02/11/2026), memperingati hari jadi ke-302 dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan. Perayaan digelar di rumah Keluarga Kongdong-Makalew dan dihadiri pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Desa Paniki Atas. Desa tersebut merupakan salah satu dari 12 desa di Kecamatan Talawaan.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan sejarah Desa Paniki Atas, disusul ibadah syukur yang dipimpin Pdt. Tineke Mailangkay, M.Th., Ketua BPMJ GMIM Syalom Paniki Atas. Momen kebersamaan itu semakin bermakna melalui pemasangan lilin pada kue ulang tahun, sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang desa.
Perjalanan Panjang dan Kearifan Lokal
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Alfons Jorry Tintingon, A.P., M.Si., yang mewakili Bupati Minahasa Utara Dr. Joune Ganda, menyampaikan bahwa usia 302 tahun merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu serta pertolongan Tuhan.
“302 tahun luar biasa. Semua ini tentunya tidak lepas dari pertolongan Tuhan. Kita bersyukur karena kemurahan Tuhan sehingga Desa Paniki Atas boleh membilang angka 302 tahun,” ujar Jorry.
Ia menegaskan bahwa kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, seperti jalan yang kini semakin terjangkau, tetapi juga dari manusia yang menghidupinya. Menurutnya, adat, budaya, dan kearifan lokal merupakan fondasi penting dalam membentuk identitas masyarakat.
Nama Paniki Atas sendiri berakar dari kata Pinangikian, yang dimaknai sebagai “bekas gigitan.” Sejarah lokal mencatat bahwa nama tersebut berkaitan dengan kisah dua ekor anjing yang saling menggigit di sungai Ratalesung, sebelum nama desa kemudian berubah menjadi Paniki Atas pada awal abad ke-20.
Jorry mengajak warga terus mengangkat kearifan lokal, khususnya budaya Tonsea. Ia mengutip pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” sebagai pengingat agar setiap orang menghormati adat istiadat, budaya, dan aturan yang berlaku di tempat tinggalnya.
Dalam sambutannya, Jorry Tintingon juga menitipkan tiga pesan dari Bupati Dr. Joune Ganda kepada masyarakat Desa Paniki Atas:
Menjaga persatuan dan kesatuan sebagai modal utama kemajuan desa.
Menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai kearifan lokal yang membutuhkan partisipasi seluruh warga.
Mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk penguatan pembinaan agar terhindar dari berbagai persoalan sosial.
“Setiap generasi memiliki tantangan sendiri, tetapi tantangan sekarang lebih kompleks. Karena itu, pembinaan generasi muda harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Hukum Tua Desa Paniki Atas Karel Maxi Longdong menyampaikan rasa syukur atas berkat dan tuntunan Tuhan sehingga perayaan hari jadi desa dapat berlangsung dengan baik.
“Kita boleh ada di saat yang berbahagia ini, di mana Tuhan sudah menambahkan satu tahun lagi usia desa yang kita cintai hingga membilang 302 tahun,” kata Maxi.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan warga dalam menyelenggarakan perayaan tersebut, dengan mengutip pepatah, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”
Turut hadir dalam acara tersebut Anggita Dewan Chris Joddy Longdong, Kepala Dinas PMD Jorry Tintingon, Camat Talawaan Ansye Dengah, S.Sos., Wakapolsek Dimembe Ipda Stelny Malope, S.Sos., pimpinan BKSAUA, tokoh agama, tokoh masyarakat, pendiri desa, serta seluruh masyarakat Desa Paniki Atas.
Perayaan hari jadi ke-302 ini bukan hanya menjadi momen peringatan usia desa, melainkan juga pengingat bahwa kemajuan Paniki Atas dibangun atas dasar iman, perjuangan, persatuan, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.(jein)

Tinggalkan Balasan