Ngaku Pemuja Setan, Dua Siswa Berencana Bunuh 15 Temannya dan Meminum Darah

0
220

LIPUTAN15–Anak sekolah harus butuh pengarahan yang baik supaya tidak bertindak konyol. Seperti dua murid perempuan sekolah menengah di Florida, Amerika Serikat, ditangkap polisi karena merencanakan pembunuhan terhadap teman-temannya dalam sebuah ritual setan.

Melansir BBC dan dikutip Kompas.com Kamis (25/10/2018), dua murid Bartow Middle School itu masing-masing berusia 11 tahun dan 12 tahun.

Kepada polisi, mereka mengaku sebagai pemuja setan dan berencana untuk membunuh sedikitnya 15 pelajar lainnya.

Kepala Polisi Bartow Joe Hall mengatakan, keduanya ditangkap pada Selasa lalu atas konspirasi pembunuhan, kepemilikan senjata di area sekolah, membawa senjata yang disembuntukan, dan menganggu sekolah.

Selain itu, dua remaja tersebut juga berencana untuk meminum darah dan makan daging murid-murid yang mereka bunuh. Kemudian, mereka akan bunuh diri.

CNN melaporkan, rencana berhasil digagalkan pada Selasa lalu setelah absen otomatis memperingatkan orangtua salah satu dari mereka, yang mengabarkan anaknya tidak hadir di kelas.

Sebelumnya, dua anak perempuan itu menghabiskan akhir pekan bersama di rumah.

Kemudian pada Minggu, sehari setelah mereka menyaksikan film horor, mereka merencanakan pembunuhan terhadap beberapa murid lainnya.

Mereka tetap hadir di kelas pertama pada keesokan harinya, tapi untuk selanjutnya dua gadis cilik bertemu dan bersembunyi di kamar mandi.

Di sana, keduanya menunggu adik kelas untuk menyerang mereka. Namun, dua murid yang tidak disebutkan namanya itu mengaku tidak ingin menyerang kakak kelas.

Dengan pisau disembunyikan di balik pakaian, mereka berencana untuk menikam korban.

“Setelah murid lain tak bernyata, mereka akan memutilasinya dan makan bagian dari daging segar,” demikian laporan polisi.

“Dengan membunuh temannya, mereka akan ke neraka sehingga bisa bersama setan,” ujar keterangan polisi.

Diwartakan Huffington Post, psikolog Wendy Rice yang tidak dilibatkan dalam kasus ini mengatakan, banyak faktor yang bisa berkontribusi pada kasus semacam itu, temasuk internet dan penolakan sosial.

“Ketika anak-anak merasa kehilangan haknya atau mengalami penolakan sosial, mereka akan memandangnya secara ekstrem untuk mencoba mencari tempat agar bisa masuk dalam kelompok tertentu,” katanya.

“Beberapa anak akan melihat hal menyeramkan dan mengembangkan gangguan kecemasan,” ujarnya.

“Konsep mereka tentang kematian atau keabadian sedikit berbeda dengan orang dewasa,” kata Rice.

Sementara itu, jaksa setempat masih meninjau apakah akan menuntut para gadis cilik itu selayaknya orang dewasa. Kini, mereka berada di fasilitas tahanan remaja. (end)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here