MANADO — Di balik gemerlap peresmian Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara pada Jumat malam (22/5/2026) tersimpan upaya panjang menata kembali warisan budaya yang nyaris terabaikan.
Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, membuka cerita tentang kondisi memprihatinkan yang ditemukannya sebelum bangunan itu direvitalisasi.
Yulius menceritakan bahwa kekhawatiran terhadap nasib museum itu sempat disampaikan sahabatnya yang kini menjadi Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Peringatan itu mendorong gubernur untuk memeriksa langsung lokasi.
Hasil sidak awal menurutnya mengejutkan: halaman dipenuhi rumput tinggi, suasana malam hari gelap karena minim penerangan, fasilitas dasar seperti toilet tidak tersedia, dan tidak ada sistem digital untuk mendata koleksi.
Tanpa menunggu lama, Pemerintah Provinsi mengalokasikan dana pada anggaran perubahan untuk perbaikan menyeluruh. Perombakan tidak hanya menyentuh aspek fisik gedung, tetapi juga prosedur pengelolaan koleksi.
Sejak Maret, Dinas Kebudayaan bekerja bersama sejarawan dan budayawan se-Sulawesi Utara melakukan pendataan ulang terhadap sekitar 2.800 benda sejarah yang tersimpan.
“Tim kami bersama para sejarawan bekerja intens. Saat ini 90 persen koleksi sudah terdokumentasi rapi,” ujar gubernur, seraya menambahkan bahwa sekitar 10 persen peninggalan masih dalam pelacakan untuk memastikan asal-usulnya.
Gubernur juga menyampaikan penghargaan kepada staf museum, Dinas Kebudayaan, arsitek lokal yang menangani renovasi, serta dukungan Menteri Kebudayaan yang dinilainya krusial dalam proses penyelamatan ini.
Menurut Yulius, upaya tersebut kini membuahkan hasil: museum yang semula berpotensi terlantar kini siap berfungsi sebagai pusat pendidikan dan menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.
Para pihak terkait menegaskan bahwa selain peresmian, perhatian berkelanjutan terhadap pemeliharaan koleksi, pencatatan digital, dan program edukasi publik akan menjadi prioritas ke depan agar museum dapat dimanfaatkan maksimal untuk kepentingan budaya dan pendidikan.(ite)


Tinggalkan Balasan