MANADO — Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus menghadiri Ibadah Pembukaan Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Manado Convention Center (MCC), Kamis (24/9).
Hadir pada acara itu jajaran Forkopimda Sulut, Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM Pdt. Dr. Adolf K. Wenas, para pendeta, serta perwakilan BPMJ se‑Sinode GMIM.
Dalam arahannya, Gubernur Yulius menilai sidang istimewa ini memiliki makna strategis bagi perjalanan pelayanan GMIM. Selain sebagai forum organisasi gerejawi, Sidang Majelis Sinode menjadi kesempatan untuk merumuskan arah pelayanan ke depan, termasuk pembahasan revisi Tata Gereja GMIM 2021 — dokumen yang menurutnya bukan sekadar aturan, melainkan pedoman hidup berjemaat dan bersekutu.
“Kami berharap seluruh rangkaian persidangan berlangsung dalam suasana hikmat, damai, persaudaraan dan keterbukaan, sehingga setiap pembahasan dan keputusan benar‑benar menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan gereja yang kuat, tertib, relevan dan setia pada panggilan pelayanan,” ujar Gubernur.
Yulius mengaitkan peran GMIM dengan pembangunan daerah, menyebut gereja sebagai mitra penting pemerintah dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat dan penguatan karakter.
Ia menegaskan capaian pembangunan Sulut hingga Semester I 2026 — pertumbuhan ekonomi 5,42 persen, IPM 76,32, kemiskinan 6,32 persen, dan inflasi 2,53 persen — merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur masyarakat, termasuk lembaga keagamaan.
Dalam konteks revisi Tata Gereja, Gubernur mengingatkan pentingnya menyesuaikan aturan internal dengan perubahan zaman: dinamika sosial, perkembangan teknologi, dan kompleksitas tantangan keluarga serta pelayanan. Meski demikian, pembaruan harus berakar pada Alkitab dan menjaga jati diri GMIM agar gereja tetap relevan tanpa kehilangan dasar iman.
Gubernur mengajak peserta sidang mengikuti proses dengan hati terbuka dan semangat persaudaraan, serta berdoa agar hikmat membimbing setiap pembahasan dan keputusan. “Yang kita bangun bukan hanya sebuah sistem atau aturan, tetapi kehidupan persekutuan orang percaya yang mampu menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia,” katanya.
Ibadah Pembukaan SMSI ke-82 ditutup dengan harapan agar persidangan menghasilkan keputusan yang memperkuat pelayanan GMIM dan meningkatkan kontribusi gereja terhadap kesejahteraan sosial di Sulawesi Utara.(ite)

Tinggalkan Balasan