MANADO– Kampanye green building untuk memangkas emisi karbon di Indonesia kian menggema melalui Global Buildings Performance Network Indonesia (GBPN Indonesia).
Dalam workshop “GBPN: Saatnya Memperkuat Narasi Green Building” pada kegiatan Green Press Community (GPC) 2026 di Hotel Sutan Raja, Kabupaten Minahasa Utara, Sabtu (7/2), dua pembicara kunci menekankan urgensi bangunan berkelanjutan. Yaitu
Dr. Jatmika Adi Suryabrata Senior Advisor GBPN dan Farida Lasida Adji
Direktur GBPN
Dr. Jatmika Adi Suryabrata, Senior Advisor GBPN, menegaskan komitmen jaringan global ini mendukung pengurangan emisi sektor bangunan sambil menciptakan hunian sehat, hemat biaya, dan tangguh. “Kami ingin menggugah arsitek agar merancang bangunan berstandar hijau. Ini krusial untuk kurangi emisi karbon,” ujarnya.
Secara global, bangunan menyumbang 39% emisi CO2 dari sektor energi, akibat konstruksi, sumber energi, dan material. Di Indonesia, sektor ini menyerap 30% konsumsi listrik nasional dan sepertiga emisi GRK di sisi energi. Dengan proyeksi 70% penduduk berurban pada 2035, permintaan hunian dan listrik bakal melonjak.”Tanpa praktik berkelanjutan, warga hadapi tagihan listrik tinggi dan udara ruangan tak sehat,” tambah Dr. Jatmika.
Namun, manfaatnya nyata: keluarga berpenghasilan menengah bawah bisa hemat hingga USD 35 (Rp580.000) per bulan—setara 5% pendapatan rumah tangga. Setiap investasi USD 1 juta di bangunan hemat energi berpotensi lahirkan 16 juta lapangan kerja per tahun, dengan pengurangan emisi nasional hingga 37 juta ton.
Farida Lasida Adji, Direktur GBPN, turut hadir memperkuat pesan tersebut. GBPN fokus pada arah strategis: reformasi kebijakan berbasis bukti untuk bangunan sehat bebas emisi, transformasi pasar adil dengan pembiayaan hijau, akses hunian tahan iklim, serta ekosistem pakar inovatif.
Cara kerja GBPN meliputi dukungan teknis, data bukti, tools praktis, kolaborasi jangka panjang dengan pemerintah-swasta, dan pendekatan bottom-up berbasis inisiatif lokal. “Kami fasilitasi perubahan sistemik di lokasi strategis,” pungkas Dr. Jatmika.
Workshop ini jadi panggilan aksi bagi pemangku kepentingan bangun Indonesia hijau, sehat, dan makmur.(ite)


Tinggalkan Balasan