LIPUTAN15.COM- Pembunuhan misterius menewaskan puluhan orang kembali dibuka Polisi Jerman. Polisi membuka penyelidikan terhadap kasus kematian 21 orang di sebuah perusahaan, setelah seorang pria terekam kamera sedang memberikan racun pada makan siang seseorang.

Diwartakan The Telegraph dan dikutip lagi dari Kompas.com, Rabu (27/6), polisi telah menahan seorang karyawan berusia 56 tahun yang diduga mencoba membunuh rekannya di perusahaan yang terletak di kota Schloss Holte-Stukenbrock.

Polisi menemukan merkuri, timbal dan kadmium di rumah pria itu. Pihak berwenang mencurigai pria tersebut bertanggung jawab atas kematian 21 orang dari perusahaan yang sama.

Pria yang tidak disebutkan identitasnya itu ditangkap pada Mei lalu, setelah seorang karyawan lain melihat ada bubuk putih pada makanannya.

Karyawan yang mungkin menjadi korban selanjutnya tersebut kemudian melapor pada atasannya. Dia meminta agar pihak keamanan melihat rekaman CCTV.

Dalam rekaman kamera pengawas terlihat pelaku menaburkan sesuatu di makan siang karyawan tersebut.

“Pada awalnya kami pikir itu merupakan lelucon yang keliru di antara rekan kerja, dan bukan upaya pembunuhan,” kata Tilo Blechinger, manajer untuk produsen peralatan logam ARI Armaturen.

Dia mengatakan, pelaku telah bekerja untuk perusahaan ARI Armaturen selama 38 tahun.

Dilansir dari Deutsche Welle, kasus peracunan kemudian meningkat menjadi percobaan pembunuhan, setelah polisi mengidentifikasi bubuk tersebut sebagai timah asetat.

Timah asetat adalah zat yang sangat beracun dan hampir tidak memiliki rasa, namun dapat menyebabkan kerusakan organ yang serius.

Setelah menerima laporan mengenai rekaman CCTV, polisi menggeledah rumah dari pelaku dan menemukan zat yang digunakan untuk membuat racun, termasuk merkuri, timbal dan kadmium.

Pada Rabu (27/6), pihak berwenang mengumumkan akan memperluas penyelidikan dengan memasukkan kematian 21 karyawan yang telah meninggal sejak 2000.

Dua karyawan lainnya berada dalam keadaan koma dan seorang pria lain sedang menjalani dialisis.

Polisi membentuk tim khusus untuk menyelidiki kematian para korban dan mewawancarai keluarga korban serta dokter yang merawat mereka.