MINUT — Kabupaten Minahasa Utara kembali mendapat sorotan internasional setelah dipilih sebagai lokasi percontohan (pilot project) pengembangan ekonomi biru oleh Uni Eropa. Rombongan delegasi dari 13 negara melakukan kunjungan kerja dan dialog di Hotel Paradise, Rabu (15/7/2026), untuk melihat langsung program pemberdayaan masyarakat pesisir yang didukung World Conservation Society (WCS) dan KfW Development Bank (Jerman).
Bupati Minahasa Utara Dr. Joune J.E. Ganda menyambut baik kunjungan tersebut dan menilai ini sebagai pengakuan atas potensi pesisir dan kelautan daerah. Menurut Bupati, delegasi yang terdiri dari duta besar dan perwakilan negara-negara Eropa berminat mempelajari model pengelolaan sumber daya laut yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.
“Mereka ingin melihat bagaimana masyarakat pesisir bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik tanpa merusak lingkungan. Konsep yang dikembangkan adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya laut dan kelestarian ekosistem,” ujar Bupati Joune Ganda.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke kawasan konservasi seperti Likupang dan Pulau Gangga, di mana delegasi berdialog langsung dengan komunitas nelayan untuk mendengar kebutuhan serta tantangan yang mereka hadapi.
Dialog lapangan ini dimaksudkan untuk menyusun intervensi yang relevan—mulai alternatif mata pencaharian berkelanjutan, praktik perikanan ramah lingkungan, hingga penguatan kapasitas kelompok nelayan dan pelibatan perempuan dalam rantai nilai ekonomi pesisir.
Bupati Joune berharap inisiatif itu menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. “Ini merupakan peluang besar bagi Minahasa Utara untuk menjadi contoh nasional dalam pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan,” katanya.
Dalam pertemuan informal, Dubes Uni Eropa dan Dubes Belgia yang hadir menyampaikan kekaguman terhadap kondisi daerah. Mereka memuji keramahan masyarakat, keindahan alam, dan kekayaan biodiversitas Minahasa Utara sebagai faktor pendukung investasi program blue economy di wilayah ini.
Program pilot blue economy di Minahasa Utara akan fokus pada pengembangan ekonomi pesisir yang berkelanjutan melalui kolaborasi multi‑pihak: pemerintah daerah, lembaga konservasi internasional, lembaga pendanaan, dan komunitas lokal. Dukungan teknis dan finansial dari mitra internasional diharapkan mempercepat adopsi praktik ramah lingkungan, penguatan tata kelola sumber daya laut, serta penciptaan lapangan kerja hijau bagi masyarakat pesisir.
Dengan kunjungan delegasi internasional ini, Minahasa Utara mendapat peluang memperluas jejaring investasi dan akses pendanaan internasional untuk program‑program pengelolaan laut dan pesisir.
Ke depan, kesuksesan pilot project akan menjadi tolok ukur kemampuan daerah dalam mengharmoniskan konservasi ekosistem laut dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.(**)


Tinggalkan Balasan